KUCING

Kucing Itu bernama kucing

Bukan Harimau ataupun Gagak

Tuhan tidak mengubahnya menjadi kura-kura, kecuali si Kucing yang mengubahnya sendiri

Biar tampang kucing , dia bisa menjadi yang dia mau

Tapi si Kucing tetap namanya Kucing

Iklan

Sumber-Sumber Hukum

Materi: Pengantar Ilmu Hukum

Sumber hukum adalah segala sesuatu yang menimbulkan aturan-aturan yang mempunyai kekuatan yang bersifat memaksa, yaitu aturan-aturan yang jika di langgar mengakitbatkan sanksi tegas dan nyata.
Hakekatnya: tempat menemukan dan menggali hukum

Arti sumber hukum:
1. Sebagai asas hukum, sesuatu yang merupakan permulaan hukum.
2. Menunjukkan hukum terdahulu menjadi/memberi bahan hukum yang kemudian.
3. Sumber berlakunya yang memberikekuatan berlaku secara formal kepada peraturan hukum.
4. Sumber dari mana kita dapat mengenal hukum.
5. Sumber terjadinya hukum. Sumber yang menimbulkan hukum.

__________

Sumber hukum ada 2 yaitu:
1. Suber hukum materiil: tempat dari mana materi hukum diambil, jadi merupakan faktor pembantu permbertukan hukum, dapat di tinjau dari berbagai sudut.

2. Sumber hukum formil ada 5 yaitu:
1) UU (statute)
2) Kebiasaan (custom)
3) Keputusan hakim (jurisprudentie)
4) Trakta
5) Pendapat sarjana hukum (doktrin)
UU adalah perturan negara yang mempunyai kekuatan hukum mengikat yang diadakan dan di pelihara oleh negara.
Tingkatan pertuaran: UU45-UU-PERPU-KEPRES-PERDA-PERDES

Menurut UU no.10 /2004

1.UUD RI 1945

2.UU/ Peraturan Pemerintah Pengganti UU

3.Peraturan Pemerintah

4.Penetapan Presiden

5.Peraturan Daerah:

-Peraturan Prov,(tingkat1)

-Peraturan Daerah Kab/Kota, (tingkat2)

_________

1. UU ADA 2 YAITU:

1. UU (formil) keputusan pemerintah yang merupakan UU karena cara pembuatannya. UU dibuat oleh president dan DPR.

2. UU (Materil) adalah setiap keputusan pemerintah yang menurut isinya mengikat langsung setiap penduduk.
Berlakunya UU: menurut tanggal yang ditentukan sendiri oleh UU itu sendiri:
a) Pada saat di undangkan
b) Pada tanggal tertentu
c) Ditentukan berlaku surut
d) Ditentukan kemudian/dengan peraturan lain
Berakhirnya UU.
a) Ditentukan oleh UU itu sendiri
b) Di cabut secara tegas
c) UU lama bertentangan dengan UU baru
d) Timbulnya hukum kebiasaan yang bertentangan dengan UU/UU sudah tidak di taati lagi
Sebuah peraturan hukum biar berlaku terus harus (extraordineri)
Di indonesia hanya ada 2 yaitu: 1. Pembrantasan teroris. 2. Pelanggaran ham.

———

Asas-asas berlakunya UU

a) LEX SUPERIOR DEROGAT LEGI INFERIORI: UU yang kedudukannya lebih rendah tidak boleh bertentangan dengan UU yang kedudukannya lebih tinggi dalam mengatur hal yang sama.

b) LEX SPECIALE DEROGAT LEGI GERERALI: UU bersifat khusus mengesampingkan UU yang bersifata umum, apabila UU tersebut sama kedudukannya.

c) LEX POSTERIOR DEROGAT LEGI PRIORI: UU yang berlaku belakangan membatalakan UU terdahulu sejauh UU itu mengatur hal yang sama

d) NULLUM DELICTIM NOELLA POENA SINC PRAEVIA LEGI POENATE: tidak ada pembuatan dapat di hukum kecuali sudah ada peraturan sebelum perbuatan dilakukan.

Jadi UU yang telah diundangkan di anggap telah di ketahui setiap orang sehingga pelanggar UU mengetahui UU yang bersangkutan.

———-

2. KEBIASAAN
Kebiasaan merupakan sumber hukum tertua. Kebiasaan adalah perbuatan manusia yang tetap dan berulang. Sehingga merupakan pola tingkah laku yang tetap, ajeg, lazim, dan normal/perilaku yang di ulang yang mnimbulkan kesadaran bahwa perbuatan itu baik.
Kebiasaan/adat/custom akan menimbulkan hukum jika UU menunjukkan pada kebiasaan untuk di berlakukan. Pasal 15 AB: kebiasaan tidak menimbulkan hukum, kecuali jika UU menunjuk pada kebiasaan untuk di berlakukan kebiasaan dapat menjadi sumber hukum,
Syarat-syaratnya yaitu:
1) Perbuatan itu harus sudah berlangsung lama.
2) Menimbulkan keyakinan umum bahwa perbuatan itu merupakan kwajiban hukum.
“Demikian Selanjutnya”
3) Ada akibat hukum jika kebiasaan hukum dilanggar.
Pasal 1339 “BW” persutujuan tidak hanya mengikat untuk apa yang telah di tetapkan dengan tegas oleh persetujuan, tetapi juga untuk segala sesuatu menurut sifat persetujuan itu di wajibkan oleh kebiasaan.
Pengadilan tidak boleh menolak untuk memeriksa dan mengadili suatu perkara yang diajukan, dengan dalih bahwa hukum tidak/ kurang jelas, melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadilinya.

———

3. YURRISPRUDENTIE (presedent)

Yurrisprudentie adalah putusan hakim (pengadilan) yang mengikuti/mendasarkan putusan hakim terdahulu dalam perkara yang sama. Ada 3 penyebab (alasan) seorang hakim mengikuti 2 putusan hakim yang lain (menurut utrecht, yaitu:)

a) Psikologis: seorang hakim mengikuti putusan hakim lainnya kedudukannya lebih tinggi, karena hakim adalah pengwas hakim di bawahnya. Putusan hakim yang lebih tinggi membpunyai “GEZAG” karena di anggap lebih brpengalaman.

b) Praktisi: mengikuti 2 putusan hakim lain yang kedudukannya lebih tinggi yang sudah ada. Karena jika putusannya beda dengan hakim yang lebih tinggi maka pihak yang di kalahkan akan melakukan banding/kasasi kepada hakim yang pernah memberi putusan dalam perkara yang sama agar perkara di beri putusan sama dengan putusan sebelumnya.

c) Sudah adil, tepat dan patut: sehingga tidak ada alasan untuk keberatan mengikuti putusan hakim yang terdahulu.

———-

4. TRAKTAT

Traktat adalah perjanjian yang diadakan oleh 2 negara/lebih.
a) Negara: bilateral.
b) Lebih dari 2 negara: multilateral.
c) Perjanjian terbuka/kolektif: perjanjian multilateral yang memberi kesempatan negara lain yang tidak ikut mengadakan perjanjian untuk menjadi pihak.
Perjanjian antar negara di bedakan mendadi treaty dan agreement treaty adalah perjanjian yang kurang penting.
Treaty harus di sampaikan kepada parlement untuk mendapat persetujuan sebelum diratifikasi president/kepala negara.

MATERI-MATERI TREATY:
a) Masalah-masalah politik/yang lain yang dapat mempengaruhi haluan politik negeri.
b) Ikatan-ikatan sedemikian rupa yang mempengaruhi haluan politik negara.
c) Masalah-masalah yang menurut UUD/peraturan perundang-undangn harus diatur dengan UU.
AGREMENT merupakan perjanjian dengan menteri-menteri lain yang hanya disampingkan kepada parlement/DPR untuk di ketahui setelah di shkan kepala negara.
Fase/tahap traktat.
a) Sluiting: penetapan isi perjanjian oleh delegasi pihak-pihak yang bersangkutan, melahirkan/menghasilkan konsep trakta/sluiting soor konde.
b) Persutujuan masing-masing parlement yang bersangkutan.
c) Ratifikasi (pengesahan) oleh masing-masing kepala negara. Maka berlaku untuk semua wilayah negara.
Di afkondiging (pengumuman) saling menyampaikan piagam perjanjian. Traktat berlaku setelah ratifikasi.

———-

5. DOKTRIN

Doktrin menjadi sumber hukum karena UU perjanjian internasional dan yurisprudensi tidak memberi jawaban hukum sehingga di carilah pendapat ahli hukum.
Berlaku: communis opinio doctorum: pendapat umum tidak boleh menyimpang dari pendapat para ahli.
a) Commentaries on the laws at england oleh sir william black stone.
b) Ajaran imam syafi’i, banyak di gunakan oleh PA (pengadilan agama) dalam putusan
c) Trias politika
· Lock: LEF (LEGISLATIF, EXSEKUTIF, FEDERATIF)
· QUIEU: LEY (LEGISLATIF, EXDEKUTIF, YUDIKATIF)
· KANT: TRIAS POLITIKA.

PENDEKATAN HUKUM

A. MENURUT ISINYA:
1. HUKUM PUBLIK: hukum yang mengatur hubungan hukum yang menyangkut kepentingan umum.
2. HUKUM PRIVAT: hukum yang mengatur hubungan-hubungan hukum yang menyangkut kepentingan pribadi.

B. Menurut bentuknya:
1. Hukum tertulis: hukum sebagaimana tercantum dalam peraturan perundangan-undangan.
2. Hukum tidak tertulis: hukum yang terdapat dalam masnyarakat di taati dalam pergaulan.

C. Menurut tempat berlakunya:
1. Hukum Nasional: hukum yang berlaku dalam satu wilayah Negara.
2. Hukum internasional: hukum yang berlaku di berbagai Wilayah Negara.

D. 1. IUS CONSTITUTUM: hukum yang berlaku pada suatu Negara pada saat ini.
2. IUS CONSTITUENDUM: hukum yang di harapkan/di cita-citakan berlaku pada waktu yang akan datang.

E. Menurut sifat/kekuatan mengikatnya:
1. Hukum Fakultatif: peraturan hukum yang boleh di ke sampingkan oleh orang/pihak yang berkepentingan
2. Hukum Imperatif: peraturan hukum yang tidak boleh di kesampingkan oleh orang/pihak yang erkepentingan.

IMPERAIF: 1320 BW:

F. Menurut dasar pemeliharaannya/cara mempertahankannya:
1. Hukum Materil: hukum yang mengatur isi hubungan-hubungan hukum dalam masyarakat.
2. Hukum Formil: hukum yang mengatur cara mempertahankan/menegakkan hukum materil.
(HUKUM ACARA PERDATA)
(HUKUM ACARA MILITER)
(HUKUM ACARA MK)
(HUKUM ACARA PIDANA)

G. Menurut penerapannya:
1. Hukum In Abstracto[1]: semua peraturan hukum yang berlaku pada suatu negara yang belum di terapkan terhadap sesuatu kasus oleh pengadilan
2. Hukum In Conerito[2]: peraturan hukum yang berlaku pada suatu negara yang telah di terapkan oleh pengadilan terhadap suatu khasus yang terjadi dalam masyarakat

Pengertian Hukum Menurut Para Ahli

Dunia ini tidak akan lepas dari aturan, setiap aturan adalah sebuah batas dalam kehidupan ini yang tercipta secara alamiah maupun dibuat oleh subjek.

Manusia hidup berdampingan dengan manusia, semua manusia memiliki kebebasan, namun kebebasan manusia juga membatasi kebebasan manusia yang lainnya.

Oleh karena itu demi terciptanya kemakmuran dan kesejahteraan serta tidak ada kesewenang-wenangan yang merugikan, maka manusia menciptakan hukum untuk mengatur hubungan mereka diantara mereka dan mengatur mereka dalam hal lainnya yang bertujuan untuk menciptakan kedamaian dan kesejahteraan serta keteraturan yang saling menguntungkan.

Definisi tidak ada yang sempurna, oleh karena itu tidak ada definisi tentang hukum yang mutlak.

Berikut adalah definisi hukum menurut para ahli:

1. Plato; Hukum adalah seperangkat peraturan-peraturan yang tersusun dengan baik dan teratur dan bersifat mengikat hakim dan masyarakat.

2. Immanuel Kant; Hukum adalah segala keseluruhan syarat dimana seseorang memiliki kehendak bebas dari orang yang satu dapat menyesuaikan diri dengan kehendak bebas dari orang lain dan menuruti peraturan hukum tentang kemerdekaan.

3. Achmad Ali; Hukum merupakan seperangkat norma mengenai apa yang benar dan salah, yang dibuat dan diakui eksistensinya oleh pemerintah, baik yang tertuang dalam aturan tertulis maupun yang tidak, terikat dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat secara menyeluruh, dan dengan ancaman sanksi bagi pelanggar aturan norma itu.

4. Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja; Hukum adalah keseluruhan kaidah serta semua asas yang mengatur pergaulan hidup dalam masyarakat dan bertujuan untuk memelihara ketertiban serta meliputi berbagai lembaga dan proses guna mewujudkan berlakunya kaidah sebagai suatu kenyataan dalam masyarakat.

5. Borst; Hukum merupakan keseluruhan peraturan bagi perbuatan manusia di dalam kehidupan bermasyarakat. Dimana pelaksanaannya bisa dipaksakan dengan tujuan mendapatkan keadilan.

6. Mr. E.M. Meyers; Menurutnya hukum ialah aturan-aturan yang didalamnya mengandung pertimbangan kesusilaan. Hukum ditujukan kepada tingkah laku manusia dalam sebuah masyarakat dan menjadi acuan atau pedoman bagi para penguasa negara dalam melakukan tugasnya.

7. Prof. Dr. Van Kan; Menyatakan bahwa hukum merupakan keseluruhan peraturan hidup yang sifatnya memaksa untuk melindungi kepentingan manusia di dalam masyarakat suatu negara.

8. S.M. Amin; Hukum adalah sekumpulan peraturan yang terdiri dari norma dan sanksi-sanksi. Tujuannya ialah mengadakan ketertiban dalam pergaulan manusia dalam suatu masyarakat, sehingga ketertiban dan keamanan terjaga dan terpelihara.

9. J.C.T. Simorangkir; Hukum merupakan segala peraturan yang sifatnya memaksa dan menentukan segala tingkah laku manusia dalam masyarakat dan dibuat oleh suatu lembaga yang berwenang.

10. Drs. E. Utrecht, S.H.; Menyatakan bahwa hukum adalah suatu himpunan peraturan yang didalamnya berisi tentang perintah dan larangan, yang mengatur tata tertib kehidupan dalam bermasyarakat dan harus ditaati oleh setiap individu dalam masyarakat karena pelanggaran terhadap pedoman hidup itu bisa menimbulkan tindakan dari pihak pemerintah suatu negara atau lembaga.

11. Leon Duguit; Mengungkapkan bahwa hukum ialah seperangkat aturan tingkah laku para anggota masyarakat, dimana aturan tersebut harus diindahkan oleh setiap masyarakat sebagai jaminan dari kepentingan bersama dan apabila dilanggar akan menimbulkan reaksi bersama terhadap orang yang melakukan pelanggaran hukum tersebut.

12. Sunaryati Hatono; Menurutnya hukum tidak menyangkut kehidupan pribadi seseorang dalam suatu masyarakat, tetapi jika menyangkut dan mengatur berbagai kegiatan manusia dalam hubungannya dengan manusia lainnya, dengan kata lain hukum ialah mengatur berbagai kegiatan manusia di dalam kehidupan bermasyarakat.

13. Ridwan Halim; Hukum ialah segala peraturan tertulis ataupun tidak tertulis, yang pada intinya segala peraturan tersebut berlaku dan diakui sebagai peraturan yang harus dipatuhi dan ditaati dalam hidup bermasyarakat.

14. Soerso; Hukum adalah sebuah himpunan peraturan yang dibuat oleh pihak yang berwenang dengan tujuan untuk mengatur tata tertib kehidupan bermasyarakat yang memiliki ciri perintah dan larangan yang sifatnya memaksa dengan menjatuhkan sanksi-sanksi hukuman bagi pelanggarnya.

15. Tullius Cicerco; Hukum ialah akal tertinggi yang ditanamkan oleh alam pada diri setiap manusia untuk menetapkan segala sesuatu yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan.

16. M.H. Tirtaatmidjaja; Hukum adalah keseluruhan aturan atau norma yang harus diikuti dalam berbagai tindakan dan tingkah laku dalam pergaulan hidup. Bagi yang melanggar hukum akan dikenai sanksi, denda, kurungan, penjara atau sanksi lainnya.

17. Abdulkadir Muhammad; Hukum merupakan segala peraturan baik tertulis maupun tidak tertulis yang memiliki sanksi tegas terhadap pelanggarannya.

18. Abdul Wahab Khalaf; Menyatakan bahwa hukum merupakan tuntutan Allah berkaitan dengan perbuatan orang yang telah dewasa menyangkut perintah, larangan dan kebolehannya untuk melaksanakan atau meninggalkannya.

19. Aristoteles; Mengatakan bahwa hukum hanyalah sebagai kumpulan peraturan yang tidak hanya mengikat tetapi juga hakim bagi masyarakat. Dimana undang-undanglah yang mengawasi hakim dalam melaksanakan tugasnya untuk menghukum orang-orang yang bersalah atau para pelanggar hukum.

20. Karl Max; Hukum merupakan suatu cerminan dari hubungan hukum ekonomis suatu masyarakat dalam suatu tahap perkembangan tertentu.

Cerita Merpati

Ada seekor burung merpati berbicara “…para macan pernah bodoh termasuk singa”

Sang Udang menantang si burung Merpati itu “tidak lain kau hewan yang goblok dan sesat wahai merpati, aku tantang kau atas nama tuhan wahai merpati sialan”

Sang Ikan sapu berkata “siapa dia, Merpati gila itu beraninya mengatakan bahwa singa itu bodoh, padahal singa adalah utusan untuk hutan, yang dari sejak lahir tidak pernah bodoh”

Si burung merpati meminta maaf pada semua penghuni hutan dan mengakui kebodohannya

Tapi para monyet suci masih melempari Sang Merpati itu dengan kotorannya dan meneriakinya bodoh bahkan memrovokasi warga hutan untuk membunuhnya karena bisa menyesatkan warga hutan

Sang jerapah yang arif berkata pada pohon “mungkin maksud si merpati bukan seperti itu, aku mengenalnya, karena aku juga hewan”

Para pohon hanya diam, dan tak bisa berkata apa-apa, dia hanya prihatin pada umat hewan yang semakin jahiliyyah

Lepas

Kini hanya menyisakan kegentingan serta langit siang yang mengabu dipenuhi asap. Tanah yang tadinya berhamburan seperti kapas dan ledakan-ledakan mengerikan sudah berhenti.

Kini musuh yang berada dibalik benteng pertahanan dan mereka yang digaris depan; dibalik karung pertahan dan parit, mulai keluar berpencar mengitari area tempat jatuhnya bom bertubi yang mereka lontarkan.

Semuanya sudah tewas, sisanya hanya dua orang prajurit, bersembunyi dibalik lekukan tanah yang sengaja dibuat untuk berlindung.

Mereka terjebak dan terkepung, tak ada jalan melarikan diri, mungkin pilihannya bendera putih.

Kendatipun tidak demikian, tak ada ampun bagi pihak musuh, mau menyerang ataupun menyerah membunuh musuh adalah harga mati bagi pihak musuh.

“Kita sudah mati”

“belum” Salah satu dari kedua prajurit yang tersisa itu membuka liontinnya yang berisi foto anak dan istrinya, sedangkan yang satunya lagi terpaku dalam tekanan maut yang menjalar kesuluruh bagian urat nadinya bersamaan keringat dingin, sehingga tak ada yang bisa dia pikirkan lagi kecuali berkenalan dengan kematian yang akan menjemputnya.

“kita harus bergerak mereka akan menemukan kita” sambil memasukkan liontinnya yang tertetesi oleh airmatanya.

Temannya tak mendengarkannya walaupun terdengar dikedua telinganya.

Kegelisahan dan ketakutan dan hal yang membuat mereka berat untuk mati yang mengikat mereka- belum bisa lepas begitu saja.

Ada sesuatu dalam benaknya yang mulai terpikirkan yaitu berpura pura mati, pikirnya itu salah satu peluang untuk bertahan hidup. Dalam kegentingan dan tekanan, hal itu seperti obat yang melepaskannyanya dari kegentingan dan tekanan yang menjeratnya walaupun sedikit.

Terdengar suara musuh berbicara dari kejauhan dengan bahasa asing yang tak dipahaminya, mereka sudah dekat.

Bergegas berposisi layaknya orang mati. Sementara temannya masih bersandar pada tanah sambil menatap kosong.

“cepat pura pura mati!!!!” keras namun dalam bisikan

Temannya masih hening

Dia menjambak kerahnya kemudian menamparnya, sadar !! katanya

“Mereka sudah dekat” katanya sambil menamparnya dengan keras berulang kali.

Namun temannya menghiraukannya seperti boneka yang bernafas.

“Maaf aku tidak ingin mati” dia bergegas pindah dari posisinya, apa yang dia rencakan adalah mencari kawanannya yang tewas lalu dia akan berlindung dalam tumpukan mayit kawanannya demi menambah peluang selamat walaupun sudah terbayang bahwa; setiap mayat yang ditemukan musuh pasti ditembak agar kemungkinan yang pura-pura mati tidak akan selamat.

Dia mengintip dibalik lekukan tanah itu untuk melihat situasi, itu dia katanya seraya melihat mayat para kawanannya yang bertumpukan di parit yang hancur.

Dia keluar menuju kesana dan tak memperdulikan temannya yang memboneka. Sia-sia saja waktu menjadi sebuah harga dalam menentukan nasib, pikirnya.

Salah satu dari musuh berteriak sesuatu, mungkin tak lain maksudnya seperti ini “ada yg masih hidup disini!!”

Dia mendengarnya. “Siall” pada dirinya sendiri, kemudian dengan sigap ia mengangkat mayat kawanannya dan berbaring menutupi dirinya dengan badan mayit, ditengah gundukan mayit.

Delapan orang musuh berlari mendekati posisinya.

Mencoba tidak terlihat bernafas dan memejamkan mata layaknya seorang yang sudah mati dengan detakan jantung yang kencang. Namun demikian rencananya sia-sia. Salah satu dari musuhnya yang berdelapaj tadi melemparkan geranat tepat didekatnya, dan meledak.

Sementara yang satu lagi temannya masih diposisi yang tadi, terpaku menatap kosong.

“Indah sekali” Dia mulai mengatakan sesuatu.

Dia mulai sadar setelah diam membisu dengan begitu dalamnya.

Aku tak akan menyerah demi kehormatan negaraku. dalam hatinya.

Kemudian dia keluar dari lekukan tanah itu, dengan penuh ambisi berusaha keluar dari kepungan dan penuh kewaspadaan.

Sebesar apapun pelurunya tidak akan terasa, karena tak ada yang tersisa lagi pada diriku, aku sudah terlepas, bagian diriku sudah berdamai dengan kematian, yang tersisa dalam diriku hanya harapan kecil yang tak bisa terlepas walaupun aku sudah tidak disini. kata dirinya sendiri.

Bukan Mimpi

Didalam mimpi, sekalipun tidak bisa melarikan diri dalam mimpi yang sangat buruk seseorang akan terbebas ketika membuka matanya.

Apa yang terlihat dalam hidup ini semua tergantung siapa yang melihatnya, karena apa yang terlihat didunia ini adalah kombinasi dari yang melihat dan apa yang dilihat.

Bahagia dan Derita adalah sebuah kiasan tapi bukan kebohongan.

Ketika kenyataan memang begitu pahit kau tidak bisa lari hanya dengan menutup mata dan terlelap dalam caramu menekan mimpi.

Kadang ketika kau membuka mata ataupun, berlari dari kenyataan-kemanapun. Kenyataanmu masih sama sekali tidak berubah, kecuali kau sendiri yang merubahnya dan berhenti menjadi pengecut.

Seseorang yang hanya terus berdiam diri dan membiarkan dirinya laput dalam kesengsaraanya pada hal apapun; padahal dia mampu untuk merubah dirinya. Orang itu lebih buruk dari seorang pengecut. Meski terpuruk dalam ketidakberdayaannya seorang yang tidak pengecut masih menyimpan sebuah harapan, walaupun kecil.

Hakikatnya Kesengsaraan tidak terukur oleh apapun, kaya belum berarti tidak sengsara, berpengetahuan belum berarti tidak sengsara, miskin belum tentu sengsara, fakir belum tentu sengsara, karena Kesengsaraan hanya terukur dan terlihat oleh kesadaran pribadi sendiri.

Bahagia bukanlah sekedar merasakan sensasi menyenangkan yang membuat kita lupa pada hal lainnya, bahagia bukanlah tempat sepi yang membuat kita tenang dari panggilan kenyataan yang merepotkan. Bahagia adalah kenyataan sekalipun itu bisa dikatakan kebohongan.

Jangan menjadi munafik berkata ingin bahagia sedangkan dirimu menyukai kepedihan.

Janga menjadi orang bodoh yang munafik. Seperti orang yang ingin mendaki gunung tapi apa yang dia tuju adalah sebuah pantai.

Janga menjadi pembohong pada diri sendiri, sekalipun kau orang paling jujur pada orang lain tapi masih membohongi dirimu, masih tidak berarti apa-apa. Bukan berarti membohingi diri adalah kebodohan, tapi membohongi diri juga perlu kebijaksanaan agar kebohongan itu bukan kebohongan yang bodoh.

Memahami diri sendiri lebih baik ketimbang mencari kebahagiaan. Karena ketika kau memahami dirimu sendiri lebih jauh dalam dari sebelumnya, maka tak ada lagi yang namanya bahagia ataupun derita. Semua adalah cerminan pandanganmu didunia ini. Kau akan melihat betapa mudah dan bebasnya seorang manusia keluar masuk dari derita ataupun bahagia. Kedua hal itu bukan takdir, tapi Pilihan.

Takdir akan membawa manusia pada kenyataan yang akan dialami oleh semua manusia, seperti hal nya sebuah kematian akan dialami oleh semua mahluk hidup. Sedangkan nasib akan membawa manusia pada pilihannya bagaiamana seharusnya kenyataan dirinya. Takdir semua mahluk hidup itu sama, apa yang beda dialami oleh setiap orang adalah nasibnya. Nasib tidak mematuhi takdir, tapi nasib mematuhi apa yang telah kau lakukan didunia ini. Tidak ada hal yang kebetulan di dunia ini, semua terikat sebab dan akibat.

Dunia ini ada didalam prasangkamu, tapi prasangkamu bukanlah milik dunia, tapi milik dirimu sendiri.

Prasangkamu tidak tertulis begitu saja dalam matamu. Prasangkamu mengikuti dirimu sesuai dengan apa yang kau ciptakan dalam alam dirimu sendiri.

Kita adalah seniman untuk diri kita sendiri dan seniman untuk dunia ini.

Sebenarnya Kita Tidak Takut Pada Tuhan

Saya bertanya pada anak kecil, “dek! takut gak kamu sama tuhan?”

Seorang anak kecil yang masih polos menjawab ” Tidak”

jika anda orangtuanya, apa yang akan anda tanggapi?

Anak kecil yang polos selalu saja bisa diwajarkan, tapi apa yang kita kira itu wajar padahal selalu ada benarnya juga

Lalu Apa yang orang pikirkan jika saya berkata pada pembela tuhan “Saya tidak takut tuhan”?

Mereka para Pembela Tuhan , umumnya dari mereka akan marah karena bagi mereka Tuhan harus selalu ditakuti.

Memangnya tuhan itu semenakutkan apa sampai harus ditakuti?

Memangnya tuhan itu seperti, penjahat, psikopat, pengancam? memangnya tuhan itu seperti hantu ?

Padahal kenyataannya kita semua tidak takut pada Tuhan. Seseorang bisa saja berkata takut pada Tuhan, padahal tidak sama sekali.

Kalaupun iya saya takut tuhan harusnya saya bersembunyi, berlindung dll. Karena apa yang menakutkan itu selalu ingin dihindari, lah ini tuhan katanya harus ditakuti, kalaupun iya takut, menghindari Tuhan caranya seperti apa?

Siapa saja yang Tidak takut pada Tuhan adalah orang yang gila, ateis, tidak beragama, sesat, kafir, pantas untuk dilaknat, pantas untuk di adzab, pembangkang Tuhan dll.

Memang itulah stigma masyarakat yang biasanya fanatik agama, menurut saya fanatisme boleh-boleh saja tapi fanatik agama tanpa memperdalam agamanya sendiri hanya seperti dimabuk agama tanpa mengenal tuhan dan tanpa mengenal dirinya sendiri

Berbicara stigma masyarakat diatas
Sebenarnya tidak takut bukan berarti berani.
Sebenarnya berani bukan berarti berani melawan.
Kita mungkin takut pada orangtua kita sendiri padahal maksudnya kita tidak berani melawan orangtua. Kita mungkin berani pada orangtua padahal maksudnya kita hanya tidak sungkan lagi karena sudah begitu dekatnya.

Selama ini kita umat beragama selalu berdoa, berarti kita tidak takut tuhan.
Selama ini kita berkata takut pada tuhan padahal selama ini kita hanya takut pada hukuman tuhan.

Kita tidak perlu takut dihukum tuhan karena tuhan tidak akan menghukum manusia. Karena yang menghukum manusia adalah perbuatannya sendiri

Semua agama pun menyatakan bahwa setiap hukuman itu datang dan diakibatkan dari perbuatan sendiri.

Jadi selama ini apa yang patut kita takuti pada tuhan bukanlah tuhan itu sendiri, tapi Hukum dan aturannya Tuhan.

Dan apa yang perlu kita perhatikan adalah apa yang kita lakukan didunia ini terhadap diri kita sendiri.